
Menggapai Keikhlasan II Khutbah Jum’at, 12 September 2025
لْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. اَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ
قال تعالى :
وَءَامِنُواْ بِمَا أَنزَلتُ مُصَدِّقا لِّمَا مَعَكُم وَلَا تَكُونُواْ أَوَّلَ كَافِرِ بِهِۦۖ وَلَا تَشتَرُواْ بِايَٰتِي ثَمَنا قَلِيلا وَإِيَّٰيَ فَٱتَّقُونِ
و قال أيضا
هَٰذَا بَيَان لِّلنَّاسِ وَهُدى وَمَوعِظَة لِّلمُتَّقِينَ
Ma’asyiral Mukminin Rahimakumullah
Pada kesempatan siang yang penuh barakah ini, marilah kita untuk Bersama – sama meningkatkan Kembali ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Taqwa yang sesungguhnya sebagaimana tersurat dalam Al-Baqarah 183 yang menggambarkan bahwa kita akan menjadi orang – orang yang muflihun juga.
Shalawat beserta salam pun tak lupa kita curahkan kepada Nabi yang Mulia Muhammad SAW. Semoga dengan shalawat yang selalu kita panjatkan, dapat menjadi wasilah syafa’at untuk kita kelak di hari kiamat.
Jam’ah shalat Jum’at yang dimuliakan Allah SWT.
Didalam kehidupan ini kita senantiasa menghadapi problematika yang tentunya sangat mengganggu pikiran dan batin kita. Semua masalah tersebut jika tidak kita atur sedemikian rupa, akan menjadi sebuah duri yang rasanya kecil namun sangat membuat badan kita tidak nyaman. Karena pada hakikatnya sebagaimana seorang siswa yang sekolah, kita pun hidup didunia ini merupakan ladang ujian. Di setiap kelasnya maka akan bertambah pula tingkat kesulitan dari soal – soal tersebut. Namun, hal itu dapat dengan mudah dijalani jika kita mampu memiliki sifat Ikhlas.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Imam Abdullah bin Dhaifillah ar-Rahili dalam kitabnya Thariquka ilal Ikhlash wal Fiqh fid din menjelaskan :
حقيقة الإخلاص صدقٌ في النيَّة والقول والعمل، فيما يتعلق بحقوق الله تعالى، وفيما يتعلق بحقوق المخلوقين
Artinya, “Ikhlas yang sebenarnya adalah ketika niat yang tulus sejalan dengan ucapan dan perbuatan, baik amal yang kaitannya dengan relasi horizontal (hablum minallah) maupun vertikal (hablum minannas).”
Jama’ah Shalat Jum’at yang dimuliakan Allah SWT.
Mengelola masalah dalam hidup ini tentunya sangat berkaitan erat dengan pengelolaan hati atau manajemen qalbu. Setelah kita melihat apa yang dijelaskan oleh Ar-Rahili, maka hal tersebut semakin mempertegas bahwasanya Keikhlasan sangat kuat dan erat kaitannya dengan hati. Hati manuia yang berada dalam titik focus terhdapat Allah SWT semata, dan murni hanya mencari perhatian dari Tuhannya, tidak ada yang lain.
Kemudian lebih lanjut, marilah kita melihat kutipan dari Abu Bakr Muhammad bin Ishaq al-Kalabadzi dalam kitabnya at-Ta’arruf li Madzhabi Ahli at-Tasawwuf. Dalam kitabnya ia mengutip kalam dari Abu Ayyub as-Susi yang berkata :
الخالص من الأعمال ما لم يعلم به ملك فيكتبه، ولا عدو فيفسده، ولا النفس فتعجب به
Artinya, “Amal yang tulus adalah amal yang dilakukan (dengan benar) tanpa pernah berpikir sedikit pun tentang catatan baiknya, juga tak terbersit akan ada orang lalim yang akan menghalanginya, begitu pun juga orang yang tekjub bangga olehnya.”
Jama’ah Sidang Shalat Jum’at yang dimuliakan Allah SWT.
Masih dalam kitab Thariquka ilal Ikhlash wal Fiqh Fid Din, Imam Abdullah menjelaskan serta menghimpun bahwa adanya dua puncak tertinggi sebuah keikhlasan, diataranya adalah sebagai berikut :
Yang pertama ialah, ikhlas merupakan suatu ajaran yang mampu mengamalkan ajaran dua kalimat syahadat, yang tentunya kita Yakini dan kita sering ucapkan dengan penuh ketulusan. Pada lafazh pertama, Asyhadu Alla Ilaaha Illallah mengajarkan kepada kita bahwasanya setiap ketaatan, sembah, dan perlakuan yang bajik yang kita lakukan tak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga seluruh makhluk Tuhan, merupakan suatu bentuk penghambaan yang kita persembahkan hanya untuk Allah SWT.
Adapun kalimat kedua, wa asyhadu anna Muhammad(an) rasulullah mengajarkan bahwa, di setiap jejak ketaatan yang kita ukir di bumi ini merupakan upaya mensyukuri kehadiran Nabi yang telah diutus sebagai Rasul pembawa kebenaran dan kedamaian. Tanpanya, sejarah umat manusia takkan berhasil menapaki jalan kedamaian; anak-anak takkan kenal bakti pada orang tuanya, darah dan nyawa menjadi tak berharga, dan api egoisme akan terus berkobar selamanya. Tanpa Nabi, kita akan hidup dalam gelimang amoral berkepanjangan.
Ma’asyiral Mukminin Rahimakumullah
Yang kedua ialah, menghimpun dan mengoherensi tiga pilar dalam diri manusia-baik dalam statusnya sebagai makhluk sosial maupun individual, yaitu 1. Tekad, 2. Ucapan, dan 3. Perbuatan, agar tidak keluar dari jalur ketulusan. Jangan sampai perilaku dan ucapan seolah murni untuk Tuhan, tetapi hati malah menginginkan ketenaran dan pujian dari para makhluk-Nya.
Nabi Muhammad SAW bersabda :
سألت جبريل عليه السلام عن الإخلاص، ما هو؟ فقال جبريل عليه السلام: سألت رب العزة تبارك وتعالى عن الإخلاص، ما هو؟ فقال رب العزة تبارك وتعالى : الإخلاص سر من سري أودعته قلب من أحببت من عبادي
Artinya, “Nabi bertanya kepada malaikat Jibril tentang ikhlas. ‘Apakah ikhlas itu?’ Jibril menjawab, ‘Aku telah menanyakan hal itu kepada Tuhan semesta. Dia menjawab, ‘Ikhlas adalah salah satu rahasiaku yang aku tempatkan dalam hati hamba-hambaku yang aku cintai’.” (ar-Risalah al-Qusyairiyah karya Abdul Karim bin Hawazan bin Abdul Malik al-Qusyari (juz 2, hal. 360))
Apa makna yang terkandung disini? Maknanya ialah, bahwa Nabi kita yang sangat mulia saja tidak diberi tahu apa dan bagaimana bentuk dari ikhlas tersebut. Lalu, siapakah kit ajika dibandingkan dengan Nabi? Lantas mengapa pula kita terkadang begitu angkuh menghakimi orang lain tidak ikhlas. Karena Ikhlas merupakan urusan Tuhan, bukan perkara kita sebagai orang yang lemah tak berdaya.
Ma’asyiral Mukminin Rahimakumullah.
Yang terakhir ialah, bagaimana persoalan selanjutnya Ketika Ikhlas menjadi urusan dan hak prerogatif Allah SWT? Dan bagaimana kita mengerti bahwa diri kita sudah ikhlas?
Imam al-Qusyari dalam ar-Risalah al-Qusyairiyah mengutip Dzunnun al-Mishri yang mengatakan :
ثلاث من علامات الإخلاص: إستواء المدح والذم من العامة ونسيان رؤية العمل في الأعمال ونسيان انقضاء ثواب العمل في الآخرة
Terdapat tiga tanda keikhlasan seseorang, yaitu :
- Ketika ia menganggap pujian dan celaan orang sama saja.
- Ketika ia melupakan pekerjaan baiknya kepada orang lain,
- Ketika ia lupa akan hak amal baiknya berupa pahala di akhirat.
(ar-Risalah al-Qusyairiyah karya Abdul Karim bin Hawazan bin Abdul Malik al-Qusyari (juz 2, hal. 360))
Semoga kita semua mampu menjadi golongan yang Mukhlisin di dunia. Amin Yaa Rabbal Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ,
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ,
وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah 2
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى : { وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى }
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
عباد اللهإِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ وَأَوۡفُواْ بِعَهۡدِ ٱللَّهِ إِذَا عَٰهَدتُّمۡ وَلَا تَنقُضُواْ ٱلۡأَيۡمَٰنَ بَعۡدَ تَوۡكِيدِهَا وَقَدۡ جَعَلۡتُمُ ٱللَّهَ عَلَيۡكُمۡ كَفِيلًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ
Disusun oleh : Olief Zaki Janitra, S.E. Pengasuh Al-Mujtama’ Al-Islami 4 Cianjur, Wasekjend FMA Gontor, Anggota LPKPU MUI Kab. Bogor, Alumni PKU MUI Kab. Bogor.



